Sudah Diet tetapi Kolesterol Tetap Tinggi? Ini 3 Penyebab yang Sering Diabaikan
Kolesterol tinggi tidak selalu disebabkan oleh lemak. Faktor seperti karbohidrat olahan, genetik, dan kurang serat juga berperan penting.
SUARAJATIMPOST.COM– Tingginya kadar kolestrol jahat atau low-density lipoprotein (LDL) tidak selalu dipicu oleh lemak konsumsi lemak semata. Para ahli mengungkapkan terdapat tiga factor utama yang kerap luput dari perhatian, yakni konsumsi karbohidrat olahan, faktor genetic, serta rendahnya asupan serat.
Dikutip dari Mirror, banyak orang memilih menjalani diet rendah kalori setelah mengetahui kadar kolestrolnya tinggi. Namun, Langkah tersebut tidak selalu memberikan hasil yang diharapkan. Bahkan dalam jumlah kasus, kadar LDL justru mengalami peningkatan.
Pakar kesehatan, Hoang Hien, menjelaskan bahwa kesalahpahaman yang umum terjadi adalah anggapan bahwa lemak menjadi penyebab utama tingginya kolestrol.
“Masalahnya bukan lemak, melainkan pada karbohidrat olahan, genetika, dan kekurangan serat, jika terlalu banyak gula dan terlalu sedikit serat, kolestrol akan tetap tidak terkontrol,”ujarnya.
Ia mengaku sering menerima pertanyaan dari pasien yang merasa kebingungan karena telah menjalani pola diet sederhana, tetapi kadar kolesterol tetap tinggi.
“Banyak yang percaya menghindari daging dan lemak pasti menurunkan kolesterol. Itu tidak sepenuhnya benar. Justru kadar lipid dalam darah bisa menjadi tidak stabil,” tegasnya.
Tiga Faktor Pemicu Kolesterol Tinggi
Menurut Hoang Hien, terdapat tiga faktor utama yang berperan dalam meningkatkan kadar kolesterol jahat dalam tubuh.
1. konsumsi karbohidrat olahan. Asupan gula dan karbohidrat olahan dapat memicu peningkatan hormon insulin yang kemudian mendorong hati memproduksi lebih banyak kolesterol.
2. faktor genetik. Kondisi genetik menentukan batas dasar kadar kolesterol seseorang. Pada kasus tertentu seperti hiperkolesterolemia familial, kadar kolesterol dapat tetap tinggi meskipun individu telah menerapkan pola makan sehat.
3. rendahnya asupan serat. Serat larut diketahui berperan penting dalam membantu tubuh membuang kolesterol. Namun, pola konsumsi masyarakat modern dinilai masih minim serat.
Pola Makan Seimbang Jadi Kunci
Hoang Hien menegaskan bahwa pengendalian kolesterol tidak cukup hanya dengan menjalani diet ringan, melainkan membutuhkan keseimbangan nutrisi.
Ia menyarankan pola makan yang lebih terstruktur, seperti sarapan tinggi serat dan protein, misalnya oatmeal dan yogurt. Untuk makan siang, disarankan menggunakan lemak sehat serta memperbanyak konsumsi sayuran. Sementara pada malam hari, asupan gula perlu dibatasi dengan porsi karbohidrat yang terkontrol.
Pada akhirnya, para ahli menilai bahwa permasalahan utama bukan terletak pada jumlah lemak yang dikonsumsi, melainkan pada komposisi makanan yang tidak seimbang.
“Jika terlalu banyak gula dan terlalu sedikit serat, kolesterol akan tetap bermasalah,” tutup Hoang Hien.
Sumber: Beritasatu.com
Penulis: Rainila Otek, Mahasiswa Magang Unitri Malang
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

