Kenaikan Harga Material Imbas Geopolitik, Paksa DPUBM Kabupaten Malang Review Proyek Jalan 2026
Lonjakan harga aspal dan solar industri membuat pembangunan jalan di Kabupaten Malang harus disesuaikan demi menjaga target kemantapan infrastruktur daerah.
MALANG, SJP — Kenaikan harga aspal dan bahan bakar industri akibat dampak geopolitik global mulai mempengaruhi pembangunan infrastruktur jalan di Kabupaten Malang. Kondisi ini membuat Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga (DPUBM) Kabupaten Malang melakukan penyesuaian terhadap sejumlah perencanaan proyek jalan tahun 2026.
Kepala DPUBM Kabupaten Malang, Khairul Isnaidi Kusuma, mengatakan lonjakan harga aspal terjadi cukup signifikan karena dipengaruhi kenaikan harga minyak dunia dan solar industri yang menjadi komponen utama dalam pekerjaan konstruksi jalan.
“Solar industri sekarang hampir Rp30 ribu per liter. Kalau solar naik otomatis material lain ikut naik, terutama aspal yang sebagian masih impor,” ujar Khairul belum lama ini.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat pemerintah daerah harus melakukan review ulang terhadap perencanaan proyek yang sebelumnya disusun sebelum terjadinya eskalasi harga minyak dunia.
Meski demikian, pria yang akrab disapa Oong ini aamemastikan seluruh pekerjaan tetap berjalan dengan penyesuaian teknis dan anggaran agar target utama kemantapan jalan di Kabupaten Malang tetap terjaga.
“Perencanaan lama sudah kita review dan kita sesuaikan. Jadi jangan khawatir pekerjaan tidak terlaksana,” katanya.
Ia mengakui kenaikan harga material berdampak langsung terhadap kemampuan penanganan panjang jalan. Jika sebelumnya anggaran Rp1 miliar mampu menangani sekitar satu kilometer jalan, kini volume pekerjaan mengalami penyesuaian akibat kenaikan harga material.
“Sekarang mungkin hanya sekitar 900 meter karena harga material naik,” jelasnya.
Meski demikian, pihaknya mengantisipasi berkurangnya cakupan penanganan jalan serta menyiapkan strategi melalui program rutin kontraktual aspal guna menutup ruas-ruas yang belum tertangani dalam proyek utama.
“Masih ada sisa ruas yang belum tertangani, itu kita antisipasi dengan rutin kontraktual. Yang penting tingkat kemantapan jalan jangan sampai turun drastis,” tukasnya.
Tak hanya itu, kenaikan harga material, pembangunan jalan di wilayah Kabupaten Malang juga masih menghadapi kendala pembebasan lahan di sejumlah titik proyek.
Pengerjaan dilakukan bertahap pada area yang telah bebas lahan, sementara titik yang belum clear and clean menunggu penyelesaian administrasi.
“Yang lahannya sudah bebas dikerjakan dulu. Ada beberapa spot yang memang belum clear and clean,” urainya.
Oong menyebut, progres pekerjaan jalan hingga saat ini terus bergerak dan telah mendekati 70 persen dari sebelumnya sekitar 60 persen pada bulan lalu. DPUBM menargetkan Lot B rampung pada September 2026, sedangkan Lot A selesai akhir tahun ini.
Dia menegaskan fokus pemerintah daerah saat ini bukan hanya membangun jalan baru, namun juga menjaga kondisi jalan tetap mantap melalui rehabilitasi dan penanganan rutin.
“Setiap tahun kinerja jalan bisa turun 15 sampai 20 persen, belum lagi kerusakan akibat longsor dan bencana. Jadi rehabilitasi ini penting untuk menjaga fungsi jalan tetap baik,” pungkasnya.
Informasi yang berhasil dihimpun menyebutkan, kenaikan harga material konstruksi mulai terjadi sejak April 2026 seiring lonjakan harga minyak dunia akibat tensi geopolitik global.
Harga aspal curah nasional dilaporkan naik hingga sekitar 20 persen, sementara harga solar industri non subsidi juga sempat mendekati Rp30 ribu per liter. Kondisi tersebut mulai berdampak pada biaya proyek infrastruktur di sejumlah daerah, termasuk sektor pembangunan jalan di Kabupaten Malang. (**)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

