KBS Pinjamkan Sepasang Komodo ke Jepang untuk Program Breeding, Perkuat Konservasi dan Diplomasi Hijau
KBS dipilih sebagai mitra karena dinilai konsisten dalam pengelolaan dan pengembangbiakan komodo. Saat ini, populasi komodo di KBS telah mencapai lebih dari 50 ekor, menjadikannya salah satu pusat konservasi penting di Indonesia.
SURABAYA, SJP — Kebun Binatang Surabaya (KBS) resmi menjalin kerja sama internasional dengan iZoo Jepang melalui skema peminjaman sepasang komodo untuk program pengembangbiakan (breeding). Langkah itu menjadi tonggak penting dalam upaya konservasi sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam kerja sama lingkungan global.
Penandatanganan perjanjian kerja sama tersebut dilakukan pada Rabu, 29 April 2026, sebagai tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoU) antara Kementerian Kehutanan Republik Indonesia dan Pemerintah Prefektur Shizuoka, Jepang, yang telah diteken pada 28 Maret 2026.
Dalam kesepakatan itu, Indonesia akan meminjamkan satu pasang komodo, jantan dan betina untuk dikembangbiakkan secara terencana di fasilitas iZoo di Kawazu, Shizuoka.
Kerja sama tersebut menjadi yang pertama dalam skema breeding loan komodo, sekaligus bagian dari penguatan diplomasi hijau (green diplomacy) antara Indonesia dan Jepang, yang menitikberatkan pada kolaborasi pelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati.
Direktur Operasional dan Umum KBS, Nurika Widyasanti, menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan langkah strategis dalam menjaga kelestarian komodo sekaligus memperkuat peran KBS di tingkat global.
"Kerja sama ini mencerminkan komitmen bersama dalam menjaga kelestarian satwa melalui pendekatan ilmiah, edukatif, dan berkelanjutan," unaf Nurika, Rabu (29/4/2026).
Ia menjelaskan, KBS dipilih sebagai mitra karena dinilai konsisten dalam pengelolaan dan pengembangbiakan komodo. Saat ini, populasi komodo di KBS telah mencapai lebih dari 50 ekor, menjadikannya salah satu pusat konservasi penting di Indonesia. Program breeding sendiri dilakukan secara rutin setiap tahun untuk memastikan keberlanjutan populasi.
"Jumlah komodo di KBS saat ini kurang lebih di atas 50 ekor. Setiap tahun kami terus melakukan pengembangbiakan secara rutin," imbuhnya.
Selain itu, KBS juga menerapkan penanganan khusus pada fase bertelur guna meningkatkan tingkat keberhasilan penetasan. Telur-telur komodo dipindahkan ke tempat khusus dengan pengawasan ketat agar proses inkubasi berjalan optimal.
"Kami memindahkan telur ke tempat khusus secara hati-hati untuk memaksimalkan proses penetasan," jelas Nurika.
Di sisi lain, kerja sama peminjaman satwa itu dinilai penting dalam menjaga keberagaman genetik dan mencegah kepunahan spesies, terutama pada populasi yang berada di luar habitat aslinya.
"Kerja sama ini adalah salah satu cara menjaga jumlah spesies, agar genetik di insitu tersebut tidak sampai punah," tutur Nurika.
Sebelum realisasi pengiriman, kedua pihak juga telah memastikan kesiapan fasilitas di Jepang agar sesuai dengan habitat asli komodo. Pengecekan dilakukan langsung oleh pihak terkait, termasuk kunjungan pejabat Indonesia ke lokasi iZoo.
"Sudah dilakukan pengecekan agar sarana dan prasarana di sana sesuai dengan habitat aslinya," tandasnya.
Dari sisi pemerintah, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies dan Genetik Ditjen KSDAE Kementerian Kehutanan, Ahmad Munawir, menegaskan bahwa komodo merupakan satwa endemik Indonesia yang dilindungi undang-undang, sehingga setiap bentuk kerja sama harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan tanggung jawab.
"Komodo merupakan satwa liar yang dilindungi oleh undang-undang Republik Indonesia dan hanya dapat ditemukan di Provinsi Nusa Tenggara Timur," ujarnya saat hadir mewakili Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni.
Pemerintah juga menekankan bahwa kerja sama ini wajib mematuhi regulasi nasional dan internasional, termasuk ketentuan dalam CITES, serta mengedepankan prinsip kesejahteraan satwa.
"Kerja sama konservasi seperti ini wajib menjunjung tinggi kesejahteraan satwa serta sejalan dengan regulasi nasional maupun internasional," ucap Munawir.
Secara substansi, kerja sama ini tidak hanya mencakup pengembangbiakan, tetapi juga meliputi pertukaran pengetahuan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hingga pengembangan edukasi publik berbasis konservasi. Seluruh kegiatan pun harus memenuhi standar animal welfare yang ketat.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menyambut positif kerja sama tersebut dan menilai bahwa program ini akan memberikan dampak signifikan terhadap sektor pariwisata.
"Semoga peminjaman satwa ini bisa menaikkan animo masyarakat, baik di Surabaya maupun di Jepang," kata Eri.
Ia juga optimistis kolaborasi tersebut akan meningkatkan kunjungan ke Kebun Binatang Surabaya dengan menghadirkan inovasi dan daya tarik baru.
"Ini tentu berdampak positif bagi sektor pariwisata," tukasnya singkat.
Sementara itu, pihak iZoo Jepang menyebut kerja sama ini sebagai hasil dari proses panjang yang telah dirintis selama lebih dari satu dekade. Mereka berkomitmen penuh untuk menjaga dan mengembangbiakkan komodo sesuai standar internasional.
"Kami telah menyiapkan kerja sama ini dengan Indonesia selama lebih dari 10 tahun," ungkap Director of iZoo Jepang, Tsuyoshi Shirawa.
Bagi iZoo, komodo bukan sekadar satwa, melainkan simbol penting Indonesia yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. Lebih jauh, kerja sama ini juga dimaknai sebagai jembatan hubungan antara kedua negara, tidak hanya dalam konteks konservasi, tetapi juga persahabatan.
"Ini bukan hanya animal exchange, tetapi juga penghubung antara Jepang dan Indonesia," pungkas Shirawa.
Pasca penandatanganan, KBS akan segera menyiapkan sepasang komodo yang akan dikirim ke Jepang. Namun, proses pengiriman masih menunggu izin resmi dari Presiden Republik Indonesia, mengingat status komodo sebagai satwa dilindungi dengan nilai strategis tinggi.
Dengan kolaborasi ini, KBS tidak hanya memperkuat perannya sebagai lembaga konservasi, tetapi juga membuka peluang lebih luas dalam pengembangan ilmu pengetahuan, edukasi publik, serta peningkatan daya tarik wisata berbasis pelestarian satwa. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

