Jembatan di Desa Bandung Nganjuk Rusak Parah, Pemdes Sebut Akibat Kendaraan Berat Proyek KDMP
Jembatan yang dibangun pada tahun 2022 dengan anggaran sebesar Rp30 juta tersebut hingga kini belum mendapatkan perbaikan menyeluruh.
NGANJUK, SJP – Jembatan penghubung yang menjadi akses vital bagi Badan Usaha Milik Desa Bersama (Bumdesma) di Desa Bandung Kecamatan Prambon Kabupaten Nganjuk rusak parah hingga jebol. Jembatan yang dibangun pada tahun 2022 dengan anggaran sebesar Rp30 juta tersebut hingga kini belum mendapatkan perbaikan menyeluruh.
Pelaksana Kerja (PK) Desa Bandung, Agung, menjelaskan bahwa proyek jembatan tersebut sebenarnya sudah melalui proses audit oleh pihak Inspektorat pada tahun 2023.
Meskipun terdapat catatan untuk mengembalikan material urukan yang tidak sesuai spesifikasi, Agung menegaskan bahwa secara struktur fisik, jembatan tersebut sudah masuk dalam spesifikasi yang ditentukan.
"Tahun 2022 pembangunan menggunakan anggaran dana desa. Sudah diaudit sama Inspektorat tahun 2023. Dulu ada pengembalian urukan yang kurang spek, tapi kalau jembatannya sendiri sudah masuk (spek)," ujar Agung saat dikonfirmasi, Kamis (7/5/2026).
Agung mengungkapkan bahwa penyebab utama jebolnya jembatan adalah beban muatan yang berlebih. Jembatan tersebut sering dilalui oleh kendaraan berat dalam proyek Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
"Karena akses KDMP, akhirnya jembatan itu jebol. Muatannya kan tidak sesuai dengan kapasitas (jembatan) yang kita rencanakan," tambahnya.
Terkait perbaikan, Agung menyebutkan bahwa rencana renovasi sebenarnya sudah ada, termasuk rencana pengalihan model jembatan menggunakan U-Ditch (Box Culvert) agar lebih kuat. Namun, hingga saat ini perbaikan belum bisa dieksekusi karena adanya kebijakan efisiensi anggaran di tingkat desa.
"Informasi dari Pak Kades, mau diperbaiki. Tapi sekarang kan lagi ada efisiensi, jadi harus menunggu ketersediaan anggaran lagi. Untuk menunjang beban berat, otomatis nanti modelnya dirubah memakai U-Ditch atau plat itu," jelasnya.
Kerusakan jembatan ini berdampak langsung pada operasional Bumdesma setempat. Berdasarkan pantauan di lapangan, gedung Bumdesma tampak sepi dan tidak ada aktivitas, bahkan terkesan tidak terawat.
Menanggapi hal tersebut, Agung menjelaskan bahwa pihak desa hanya menyediakan lahan, sementara pengelolaan sepenuhnya ada pada pengurus Bumdesma.
"Kami sudah berkoordinasi kembali dengan kepala desa untuk mencari solusi terbaik agar akses jembatan dan operasional Bumdesma bisa kembali berjalan normal," sebut Agung yang juga perangkat Desa Bandung.
Terpisah, Kepala Desa Bandung, Heru Subagio menyatakan, terkait kondisi jembatan penghubung desa yang mengalami kerusakan atau jebol, dipastikan terjadi akibat aktivitas kendaraan berat yang melintas selama pengerjaan proyek KDMP.
Kata Heru, ia menegaskan bahwa pihak desa telah merencanakan langkah perbaikan, namun menunggu momentum yang tepat agar hasil perbaikan nantinya lebih optimal dan tahan lama menunggu proyek selesai
Menurut Heru, perbaikan jembatan tidak dilakukan saat ini karena proyek KDMP masih terus berjalan. Melakukan perbaikan saat mobilitas kendaraan berat masih tinggi dinilai tidak akan efektif.
"Jelas diperbaiki nanti kalau pengerjaan proyek (KDMP) sudah selesai," tegas Kades Bandung saat dihubungi melalui sambungan telepon.
Terkait pembiayaan pembangunan awal jembatan tersebut, Kades Bandung membenarkan bahwa proyek tersebut menggunakan alokasi dana desa sekitar Rp30 juta. Nilai ini sesuai dengan perencanaan awal jembatan sebelum akhirnya mengalami kerusakan akibat beban muatan proyek yang melebihi kapasitas.
Namun, pihaknya menanyakan rincian teknis lebih lanjut mengenai spesifikasi dan realisasi anggaran, Kades mengarahkan untuk berkoordinasi dengan Pelaksana Kerja (PK), Agung, yang memiliki data lebih mendalam.
"Koordinasi langsung sama Pelaksana Kegiatan, semuanya dia yang paham," tutupnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

