Guru Besar UIN Malang: Jangan Biarkan Atribut Kelulusan Mengaburkan Integritas Akademik

Guru Besar UIN Malang mengajak generasi muda menjaga keseimbangan antara ekspresi kebahagiaan, kedalaman ilmu, integritas, serta pengabdian nyata kepada masyarakat luas.

29 Jun 2026 - 10:00
Guru Besar UIN Malang: Jangan Biarkan Atribut Kelulusan Mengaburkan Integritas Akademik
Guru Besar sekaligus Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. M. Abdul Hamid, M.A (Foto : Humas UIN Malang for SJP)

MALANG, SJP–Fenomena selebrasi kelulusan mahasiswa yang kian meriah di era digital dinilai bukan sekadar perilaku berlebihan atau pamer. Di balik ramainya buket bunga, balon, selempang, hingga unggahan di media sosial, terdapat perubahan mendasar tentang cara generasi muda memaknai pengalaman, identitas, dan keberhasilan.

Pandangan tersebut disampaikan oleh Guru Besar sekaligus Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. M. Abdul Hamid, M.A. Melalui artikel reflektifnya yang berjudul "Membaca Fenomena Selebrasi Gen-Z Pasca Sidang Skripsi (Merayakan Kelulusan di Era Digital)", ia mengingatkan agar euforia ini tidak menggeser substansi utama pendidikan.

Menurut Prof. Hamid, sidang akhir seperti skripsi, tesis, maupun disertasi adalah sebuah proses penuh perjuangan yang menguras tenaga dan pikiran. Oleh karena itu, kelulusan sangat layak dirayakan sebagai bentuk rasa syukur.

Namun, ia menyebut adanya perubahan besar dalam cara merayakan kelulusan jika dibandingkan dengan era 1980-an hingga awal 2000-an yang cenderung sederhana. Saat ini, bagi Generasi Z (Gen Z), kelulusan hampir selalu diikuti dengan selebrasi yang melibatkan properti foto hingga fotografer profesional demi konten media sosial.

"Hari ini, kelulusan sering kali bukan berakhir ketika sidang selesai, tetapi ketika foto terakhir selesai diunggah ke media sosial. Sidang mungkin berlangsung satu jam, tetapi selebrasinya bisa berlangsung berhari-hari di ruang digital," terang dia.

Prof. Hamid menegaskan bahwa fenomena ini tidak bisa dinilai hanya dari sudut pandang moral, melainkan harus dibaca melalui perspektif sosiologi. Setiap generasi dibentuk oleh kondisi sosial, budaya, dan teknologi yang berbeda.

"Perubahan cara merayakan kelulusan bukan sekadar perubahan perilaku individu, melainkan bagian dari transformasi budaya masyarakat," ungkapnya.

Merujuk pada pemikiran sosiolog Erving Goffman mengenai cara manusia membangun identitas di ruang publik, selebrasi ini menjadi simbol keberhasilan yang dikomunikasikan kepada lingkungan sosial.

Lebih lanjut, perkembangan teknologi telah melahirkan budaya representasi (culture of representation), di mana sebuah pengalaman bergeser menjadi jargon populer: "No Picture, It Didn't Happen" (Tanpa foto, maka dianggap tidak terjadi).

"Momen kelulusan seolah memperoleh legitimasi sosial setelah hadir di linimasa media sosial dan mendapatkan respons berupa komentar, tanda suka maupun berbagai bentuk interaksi digital lainnya," tambah dia.

Meski memaklumi fenomena ini, Prof. Hamid mengingatkan adanya tantangan besar. Jangan sampai kesibukan menyiapkan dekorasi dan konten media sosial justru mengaburkan makna utama dari kelulusan itu sendiri. Kelulusan bukanlah garis akhir, melainkan awal dari tanggung jawab moral yang nyata di masyarakat.

"Merayakan keberhasilan adalah sesuatu yang wajar, bahkan diperlukan sebagai bentuk penghargaan atas kerja keras yang telah dilakukan. Namun, selebrasi sebaiknya tidak menggeser makna utama pendidikan itu sendiri, yaitu membangun ilmu pengetahuan, karakter, integritas, dan tanggung jawab sosial," tegasnya.

Ia menilai kualitas seorang lulusan tidak diukur dari besarnya buket bunga atau ramainya unggahan media sosial, melainkan dari kontribusinya dalam menyelesaikan persoalan masyarakat. Gen Z yang kreatif dan melek teknologi harus mampu mengimbangi potensi tersebut dengan kedewasaan berpikir dan etika akademik.

Di akhir tulisannya, Prof. Hamid mengajak semua pihak untuk tidak mempertentangkan cara setiap generasi mengekspresikan kebahagiaan. Namun, ia memberikan pesan mendalam bahwa segala atribut perayaan fisik maupun digital suatu saat akan hilang.

"Namun ilmu pengetahuan yang terus dikembangkan, integritas akademik yang dijaga, serta kontribusi nyata kepada masyarakat akan tetap hidup jauh setelah euforia kelulusan berakhir. Itulah perayaan sejati yang nilainya tidak lekang oleh waktu, tidak bergantung pada algoritma, dan akan selalu dikenang dalam perjalanan panjang kehidupan seorang insan terdidik," pungkasnya. (***) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow