default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

Potret Kemiskinan Jombang, Nenek Tuna Netra Butuh Uluran Tangan

Potret Kemiskinan Jombang, Nenek Tuna Netra Butuh Uluran Tangan
Peristiwa Daerah
Nenek Muntiyah saat didampingi Ketua RT O4 / RW 02 Dusun/Desa Piton Kecamatan Diwek
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

JOMBANG, - Sudah 74 tahun Indonesia merdeka, tentunya cita cita 'founding fathers' kemerdekaan ini agar Rakyat Indonesia bisa sejahtera dari sebelumnya. Namun kesejahteraan itu sudah terealisasi apa belum mungkin pemerintah menjawab sudah atau sedang berusaha, kita tidak tau itu?

Ternyata, masih kita temukan Rakyat di Indonesia banyak yang masih butuh uluran tangan, mungkin itu luput dari pendataan. Salah satunya yang dialami nenek (63) penyandang disabilitas (tunanetra) ini.

Ya, nenek Muntiyah (63) warga Dusun/Desa Puton, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, sekitar 22 tahun lalu ditinggal suami menghadap sang kha'lik. Semenjak itu dirinya berjuang mati - matian demi buah hati yang bernama Slamet (22) hingga menjadi pria dewasa.

Berjalannya waktu nasib tidak ada yang tau. Diusia buah hati sekitar umur 8 tahun atau 14 tahun yang lalu, nenek Muntiyah mengalami gangguan pada matanya hingga terjadi kebutaan sampai sekarang.

Sudah jatuh tertimpa tangga, itu sebuah ungkapan yang di alami nenek Muntiyah, bagaimana tidak dengan keadaan tidak bisa melihat, dirinya masih berjuang untuk hidup dengan menjadi tukang pijat. 

Bukan hanya itu, anaknya yang biasa menemani dan merawat dirinya, sudah seminggu ini berbaring di rumah sakit karena terkena penyakit kanker.

Walau dengan kondisi keterbatasan dan saat ini hidup sendiri, nenek Muntiyah tetap bekerja untuk biaya pengobatan sang buah hati.

"Yang merawat ndak ada, saya sendirian sama anak, sekarang dirawat dirumah sakit," ucapnya nenek Muntiyah pada sejumlah wartawan dirumahnya. Jumat (23/8/2019).

Nenek Muntiyah menceritakan bahwa  sakit yang diderita anaknya sekitar 1, 5 tahun lalu berawal dari sakit gigi naik ke syaraf dan matanya ada bentuk kelanjer.

"Katanya Dokter itu kanker, pernah dibawah Surabaya yang nyuruh juga Dokter Jombang, mondar mandir Surabaya sudah setahun jalan kesini kesana itu namanya Kemo, 5 hari, 3 hari, 3 hari. Ya saya juga bayar orang yang menjaga anak saya itu orang dua perempuan, terus mobil ambulan desa saya bayar sopirnya," ceritanya.

Walau mempunyai Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) dan Kartu Indonesia Sehat (KIS) itu tidak bisa mengcover biaya diluar pengobatan.

"Untuk biaya maaf, saya kerjanya cuma mijet. Yang pijet bayar 20 ribu kadang 10 ribu saya kumpulkan, tapi kadang ada orang ngasih beras saya kumpulkan tiap hari," keluh nenek Muntiyah.

Disaat anaknya dirawat di rumah sakit untuk makan kesehariannya, nenek Muntiyah mengatakan kadang masak sendiri kadang tidak masak. Karena saudaranya jauh di Malang 1 dan di Blitar 1 keduanya perempuan.

"Kalau makan dikasih tetangga kadang masak sendiri. Kalau ngak bisa, ya ngak masak," katanya.

Sedangkan, soal bantuan dari pemerintah, dirinya menegaskan tidak pernah dapat.

"Tidak pernah ada bantuan. Anak saya sakit sampai di Surabaya tidak pernah ada bantuan, saya tidak bohong," ungkapnya. 

Sementara, Pa'i ketua RT O4/ RW 02, Dusun/Desa Puton, Kecamatan Diwek, mengatakan bahwa pernah diajukan ke pemerintahan desa tapi belum membuahkan hasil.

"Desa sudah mengetahui kondisinya, tapi tidak dikasih apa-apa. Sudah kami laporkan juga ke dinas tapi belum dikasih apa-apa," tandasnya.


Kontributor : Redaksi
Editor : Hariyanto
Publisher : Alfina Putri
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar