default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

Polemik Dibalik Perobohan Rumah Warga Miskin di Desa Mayangrejo, Pemilik Merdang

Polemik Dibalik Perobohan Rumah Warga Miskin di Desa Mayangrejo, Pemilik Merdang
Peristiwa Daerah
Kiai Ridwan dari Anak Ranti, Suami dari Sulbi.

BOJONEGORO - M Ridwan, pemilik rumah di Desa Mayangrejo, Dukuh Gempol RT 13 yang dirobohkan oleh Pemerintahan Desa (Pemdes) meradang.

Yang membuat dia tambah meradang, sampai saat ini tidak ada tangung jawab dari Pihak Desa, yang lebih menyakitkan lagu, tanah tersebut diangap telah terjadi jual beli antar keluarga dari pihak Hasyim (sesema saudara Ridwan yang telah Almarhum) yang konon juga di beli oleh anaknya Hasyim (farid), yang disetujui Desa dan perangkat Desa (2015).

Kini anak Hasyim yang bernama Farid pasca bapaknya meningal, tanah tersebut ingin diambil, dan dibersihkan rumah yang diangap tidak terawat tersebut.

"Katanya yang membongkar Farid, padahal ini tanahnya Ridwan, yang mestinya milik Fitri yang meningal tersebut, tapi kok ini diakui Farid dan mau diambil, kalau dibeli (Farid) kok tidak diberi uang yang bareng sebelumnya itu, yang disebelahnya itu," ujar Ranti yang sudah Usia kurang lebih 90 tahun dan sudah buta.

Salah satu pemerintah desa setempat, Bayan Tamaji mengatakan bahwa perobohan rumah yang dilakukan oleh pihak Pemdes tersebut, karena mengangu pejalan kaki dan Warga di RT 13 Dukuh Gempol, Desa Mayangrejo. Maka dari itu pihak Pemdes melakukan perobohan rumah tersebut yang saat itu 

Sebelum merobohkan rumah tersebut, Pemerintahan Desa bersama Babinkamtibmas datang ke rumahnya Ridwan di Desa Mojosari, untuk memberitahukan rumah tersebut segera dibongkar.

"Karena mengangu warga yang jalan, maka rumah itu harus dirobohkan," ujar Bayan Tamaji saat ditemui awak media Suarajatimpost.com di rumahnya.

Disingung terkait Bedah rumah yang dijanjikan oleh Pemdes, Bayan Tamaji mengatakan, hal tersebut disampaikan memang benar, kalau memang nanti Desa ada anggaran, maka rumah tersebut akan diusulkan, namun bila itu ada dan itu pun tanah asal usulnya harus jelas.

"Kita datang ke Mojosari benar, tapi sebatas menyampaikan rumah tersebut harus dibongkar karena mengangu lingkungan, doyongnya mengangu pejalan kaki," tambahnya.

Ridwan selaku pemilik rumah dan Ahli Waris yang syah tidak keberatan, dia juga meminta untuk segera dibongkar dan dibangun agar bisa ditempati sang ibu.

"Tanggal 24 Bayan Tamaji kesini, Tanggal 28 rumah tersebut dirobohkan, dan infonya akan diusulkan bedah rumah, tapi sampai saat ini tidak ada tanda tanda, sepertinya Desa Cuci tangan," terang Ridwan.

Lanjutnya, Ridwan lebih herannya alasan Desa yang tidak masuk akal, karena Tanah tersebut bukan nama Ranti atau Ridwan didalam akta surat tanah, maka itu tidak bisa diusulkan dibedah rumah (RHTL), karena selama ini Ridwan sendiri merasa tidak pernah menjual apalagi diajak omong terkait penjualan tanah tersebut, dan merasa tidak pernah menjual tanah tersebut kepada siapapun, karena hal tersebut sudah menjadi bagian Fitri, saudaranya yang sudah meningal.

Sedangkan saat Fitri sakit sampai meningalnya selama itu yang mengurus Ridwan. 

Masih menurut Ridwan yang nota Bene menjadi pemangku Imam mushola di Joroto dan TPQ tersebut, bermaksud tanah tersebut tetap dibangun dan ditempati ibunya.

"Desa cuci tangan dan, saya sendiri tidak pernah diundang, atau tanda tangan bila ada penjualan tanah tersebut, kalau hal ini diketahui Desa, mestinya saya tahu dan diundang, saya tidak pernah menjual kepada siapapun. Karena saya juga ahli warisnya yang syah" jelas Ridwan.

Dari pengembangan penelusuran awak media, dari Warga Desa cerita keluarga Ranti yang Suwami pertama itu adalah bernama Sabikin, dengan Sabikin si Ranti dikaruniai dua putra satu putri (Atemah, Hasyim, Yusuf), Sabikin meningal Ranti dinikahi oleh adik Sabikin yang bernama Sulbi, Ranti dengan Suami Sulbi punya 3 Anak (Fitri, Ridwan dan Dul Latif), 
Masih Menurut warga yang engan disebut namanya, tanah tersebut dari Kakek (Ridwan) yang bernama Mbah yahman, Bapak dari Ranti. 

Hal tersebut dibenarkan Ridwan, menurut Ridwan semua saudara-saudaranya sudah mendapatkan bagian masing masing, hal tersebut sangat disayangkan oleh pihak pihak lain yang mencoba mengadu domba keluarga Ridwan, dari dulu sampai sekarang, agar bisa menguasai tanah tanah keluarga Sulbi.

"Saya, akan terus mencari keadilan dari dunia dan akhirat, karena keluarga kami didholimi," pungkasnya.


Kontributor : Mustakim
Editor : Mu'ezul Khoir
Publisher : Alfina Putri
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar