default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

Ratusan Kali Cuci Darah, Tak Sepeserpun Keluar Biaya

Ratusan Kali Cuci Darah, Tak Sepeserpun Keluar Biaya
Peristiwa Daerah
Robiatul (44 Tahun); Pasien Cuci Darah Sejak 2015

PASURUAN - Tervonis gagal ginjal sejak 2015 silam, menjadi ujian terberat bagi Robiatul (44) hingga saat ini.

Selama 5 tahun menjadi waktu yang tak sebentar bagi dirinya untuk bisa lepas dari bayang-bayang rumah sakit.

Setiap minggu, ia harus bertemu jarum dan selang darah demi menstabilkan fungsi ginjalnya. Meskipun begitu, ia tak lantas patah arang untuk melanjutkan hari-harinya sebagai seorang wirausaha.

“Sudah ratusan kali kalau dihitung dari 2015 lalu. Sempat beberapa kali drop kemudian pulih. Hari-hari saya memang terasa berat awalnya, tapi karena ada suami dan anak-anak, saya kembali tegar. Saya terus berdo’a buat kebaikan saya dan keluarga. Saya selalu yakin semua ujian ini pasti ada hikmahnya,” kenang Robiatul. 

Diceritakannya, gagal ginjal bukan satu-satunya penyakit yang ia derita selama ini. Selang beberapa bulan kemudian, Robiatul dibuat pasrah lantaran dokter mendeteksi munculnya benjolan di sekitar rahimnya.

Meskipun benjolan ini tergolong jinak, namun ia tak lantas tenang untuk terus rutin mengobatinya.

“Sebulan sekali mesti kontrol karena dokter bilang benjolan ini akan mempengaruhi ginjal saya. Waktu itu kondisinya mulai lengket dan ukurannya makin membesar. Ini yang sempat bikin saya drop sampai sering rawat inap di rumah sakit,” ungkapnya.

Sejak saat itu, kondisi Robiatul memang sering naik turun. Ia sempat dilarikan ke RSUD Dr. Saiful Anwar Malang lantaran butuh transfusi darah yang berlebih.

Beruntung semua perawatannya telah terjamin oleh Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). Tak ada sepeser pun biaya yang ia bayarkan. 

“Yang sering saya rasakan waktu itu punggung saya terasa sakit. Sempat merasakan mual dan kondisi badan saya lemas. Awalnya ke Rumah Sakit Purut (RSUD Dr. R. Soedarsono Pasuruan, red) cuma karena butuh perawatan lebih, dokter merujuk saya ke Malang (RSUD Dr. Saiful Anwar, red). Alhamdulillah, semuanya gratis. Saya cuma mengandalkan kartu BPJS (Kartu Indonesia Sehat, red) waktu itu. Saya gak tahu lagi harus bayar bagaimana karena biayanya sudah pasti puluhan juta,” bebernya.

Dalam perjalannya, kondisi Robiatul semakin membaik. Meskipun ia sadar tak akan bisa lepas dari layanan cuci darah, setidaknya masih ada percikan semangat yang membuat dirinya lega. Ia bersyukur adanya program JKN-KIS saat ini bisa memperpanjang nafasnya hingga kini.

Tercatat, ia sudah menjadi Peserta JKN-KIS sejak 2014 silam. Besar harapannya agar program besutan BPJS Kesehatan ini bisa berlanjut dan terus berkembang.

“Yang pasti saya bersyukur ada BPJS Kesehatan. Programnya membantu sekali. Saya bisa cuci darah dengan tenang. Mungkin sudah ratusan kali tapi pelayanan di rumah sakit tetap nyaman. Tidak pernah sekalipun saya harus membayar, semuanya gratis. Program (JKN-KIS) ini harus terus ada karena memang manfaatnya yang luar biasa. Apalagi biaya cuci darah yang tergolong mahal bisa lebih ringan karena ada BPJS Kesehatan,” harapnya.


Kontributor : Syukron Adim
Editor : Mu'ezul Khoir
Publisher : Alfina Putri
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar