default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

Batik Pamekasan Mengalami Penurunan Produksi di Awal 2020

Batik Pamekasan Mengalami Penurunan Produksi di Awal 2020
Peristiwa Daerah
Sumber Foto Google.
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

PAMEKASAN - Pasca dikukuhkannya Pasar 17 Agustus menjadi Pasar Batik Tulis Tradisional Terbesar di Indonesia oleh Dirjen Ikma Kementrian Perindustrian RI, Kamis (25/10/2019), kini tengah terguncang musnah. 

Sejumlah pedagang batik lokal mengaku ada penurunan produksi dan penjual. Hal itu disebabkan maraknya produk luar masuk ke bumi gerbang salam.

Sehingga, produk lokal yang diproduksinya sepi peminat. Sementara produk luar dibiarkan merajalela terjual bebas.

"Sepi mas, ya kadang bisa menjual 2-3 per-hari, ya kadang ngak ada sama sekali," kata Ali Mastur, kepada suarajatimpost.com.

Menurutnya, merosotnya produksi batik di Pasar 17 Agustus sejak bulan Desember 2019 lalu. Bahkan, hampir setiap hari para konsumen yang datang enggan menawar produk lokal Pamekasan.

Mastur mengungkapkan penyebab menurunnya minat pembeli batik lokal di Pasar 17 Agustus, hal utama datangnya produk luar yang setiap harinya semakin membludak.

Ironisnya, kata Mastur, baik pejabat pemerintah daerah maupun masyarakat lebih memilih menggunakan produk luar tersebut.

"Produk luar yang masuk ke Pamekasan seperti Marlena. Dan para pejabat juga ikut menggunakan produk luar," pungkasnya.


Kontributor : Faisol Jalaludin
Editor : Mu'ezul Khoir
Publisher : Alfina Putri
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar