default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

IKA PMII Dorong Pemetaan Radikalisme Menyeluruh di Kampus

IKA PMII Dorong Pemetaan Radikalisme Menyeluruh di Kampus
Edukasi
Diskusi pengurus IKA PMII Jember
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

JEMBER - Ikatan Keluarga dan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) menginginkan pemetaan radikalisme di lingkungan perguruan tinggi secara utuh.

Pemetaan radikalisme tidak parsial hanya kepada mahasiswa. Upaya menangkal radikalisme haruslah menyeluruh pada setiap sendi kehidupan kampus.

"Mahasiswa adalah korban. Maka  IKA PMII, mendukung upaya pendidikan tinggi pemetaan dan pendeteksian terhadap sumber dan sistem lingkungan  keterpaparan radikalisme," tegas Wakil Ketua IKA PMII Jember, Hadi Makmur dalam keterangan resminya yang dilansir, Minggu (1/12/2019).

Pernyataan ini menyusul riuhnya Ketua LP3M Akhmad Taufiq yang mengungkap 22 persen mahasiswa Universitas Jember terpapar radikalisme, kemudian yang bersangkutan justru dipecat oleh Rektor Moh. Hasan dengan alasan membocorkan rahasia kampus.

Hadi Makmur menilai, yang dilakukan Akhmad Taufiq dalam koridor keilmuan dengan maksud membangun kesadaran kolektif pencegahan radikalisme.

"Bagi IKA PMII pernyataan hasil studi pemetaan keterpaparan radikalisme mahasiswa di Universitas Jember  yang disampaikan ketua LP3M dalam rangka seminar festival HAM adalah pernyataan akademis," tuturnya.

Kendati demikian, Hadi Makmur menyatakan tetap berprasangka baik terhadap Rektor yang mencopot jabatan Ketua LP3M Universitas Jember.

"Terkait pemberhentian, IKA PMII menghormati sikap kelegowoan Ketua LP3M dan IKA PMII sangat menghormati keputusan Rektor Universitas Jember. IKA PMII meyakini hal itu tidak dimaksudkan untuk membatasi gerakan antiradikalisme," urainya.

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris IKA PMII Jember, Dr. Rosyid menekankan angkah yang ditempuh lembaganya adalah melawan segala bentuk radikalisme.

"Kepada  seluruh anggota dan Alumni  PMII baik mahasiswa, dosen, pimpinan atau staf administrasi supaya turut andil dalam bentuk pemikiran dan kerja nyata untuk menanggulangi berkembangnya paham radikalisme," pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, tanggal 25 Nopember 2019 dalam seminar Festival HAM, Taufiq mengemukakan tingkat radikalisme terderivasi dalam kelompok teologis dan politis.

Radikalisme teologis yakni setuju dengan pengkafiran, qital, dan jihad. Sedangkan radikalisme politis berupa persetujuan pada konsep bentuk negara Islam atau khilafah.

Tanggal 26 Nopember 2019, pihak Universitas Jember menyikapinya dengan rilis ke media masaa melalui bawahan Taufiq, yakni Ketua P3KIK Akhmad Munir.

Munir menganggap terjadi distorsi pernyataan maupun pemberitaan usai seminar, karena banyak hal yang dilakukan kampus menanggulangi radikalisme termasuk melalui materi kuliah.

Sejatinya, pada hari yang bersamaan dijadwalkan pemberhentian Taufiq kala itu. Namun, Rektor Universitas Jember berhalangan.

Acara pemecatan kemudian dilakukan sehari kemudian pada tanggal 27 Nopember 2019.

Pihak kampus melarang awak media meliput saat berlangsungnya prosesi pemberhentian Taufiq sebagai Ketua LP3M oleh Rektor Universitas Jember Moh. Hasan.

Hasan memberi keterangan terbuka setelahnya, bahwa keputusannya dengan alasan Taufiq melanggar sumpah jabatan, meski memberhentikannya secara hormat. 


Kontributor : Sutrisno
Editor : Sutrisno
Publisher : Alfina Putri
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar