default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

Usai Operasi, Pasien RSU Asyifa Husada Pamekasan Meninggal Dunia

Usai Operasi, Pasien RSU Asyifa Husada Pamekasan Meninggal Dunia
Peristiwa Daerah
Keluarga Pasien Penderita Peritonitis, EC dan Hernia Ingkarserata Sinistra yang Meninggal Dunia Pasca Dioperasi
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

PAMEKASAN - Syafiuddin (31) warga asal Sokobanah, Kabupaten Sampang, yang dinyatakan meninggal dunia pasca dioperasi di Rumah Sakit Umum Asyifa Husada, Selasa, 19 November 2019.

Syafiuddin didiagnosa penyakit Peritonitis, EC dan Ingkarserata Sinistra oleh rumah sakit yang berada di Jl. Mandilaras No 88-90 Kabupaten Pamekasan.

Sebelum berlangsungnya operasi, keluarga korban merasa ada yang janggal. Sebab, RSU Asyifa Husada meminta pihak keluarga segera menandatangani surat pernyataan persetujuan berlangsungnya operasi.

Pihak rumah sakit (RS) berdalih korban sedang sekarang dan perlu secepatnya dioperasi. Namun jika pihak kelurga tetap tidak mau menandatangani surat persetujuan tersebut, pihak RS menyarankan dibawa pulang dan dioperasi sendiri di rumahnya.

Akhirnya, pihak keluarga pun menyetujui. Surat pernyataan yang dibuat pihak RS resmi di tandatangani.

Syafiuddin, dinyatakan selesai dioperasi pukul 18.00 WIB, pada hari Senin (18/11). Namun, keesokan harinya Syafiuddin dipastikan meninggal dunia pukul 08.00 WIB.

"Iya waktu itu pihak keluarga langsung menandatangani karena ada bahasa jika tidak mau tandatangan silahkan bawa pulang dan dioperasi sendiri," kata Haidar Anshori, kerabat korban.

Dikatakan Haidar, jika memang korban dinyatakan parah kenapa tidak dirujuk ke rumah sakit yang lebih bagus dan lebih lengkap alatnya, bukan lantas mengintimidasi pihak keluarga untuk segera tandatangan.

Usai Syafiuddin meninggal dunia, kata Haidar, pihak rumah sakit menyatakan bahwa usus korban sudah membusuk.

"Inikan seolah ada permainan rumah sakit untuk pihak keluarga mengeluarkan biaya yang banyak. Namun nyatanya pihak korban hanya dijadikan bahan praktek hingga meninggal dunia," ungkapnya.

Mulanya, kata Haidar, pihak rumah sakit mematok harga sebesar Rp 15 juta untuk uang operasi Syafiuddin. Namun, setelah korban dinyatakan meninggal dunia, pihak RS langsung menurunkan harga menjadi Rp 8,5 juta.

"Tidak menutup kemungkinan dugaan kami benar bahwa Syafiuddin hanya mau dijadikan bahan praktik yang gagal," pungkasnya.

Sementara itu, pihak RSU Asyifa Husada saat dimintai keterangan enggan memberikan komentar.

Bahkan, sejumlah jurnalis diminta untuk menunjukkan surat tugas dari kantor untuk peliputan kasus meninggalnya Syafiuddin pasca dioperasi.

"Mana surat tugas dari kantornya? Kalo tidak anda yang kami tidak bisa memberikan komentar. Kami hanya memberi penjelasan kepada keluarga korban. Lagian ada bukan keluarganya," ucap Ulfa, salah seorang petugas RSU Asyifa Husada.


Kontributor : Faisol Jalaludin
Editor : Mu'ezul Khoir
Publisher : Alfina Putri
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar