default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

Korban Pengeroyokan Jadi Tersangka, Ratusan Warga Desa Branta Pesisir Datangi Polres Pamekasan

Korban Pengeroyokan Jadi Tersangka, Ratusan Warga Desa Branta Pesisir Datangi Polres Pamekasan
Peristiwa Daerah
Korban Pengeroyokan Jadi Tersangka, Ratusan Warga Desa Branta Pesisir Datangi Polres Pamekasan
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

PAMEKASAN - Kadarusman merupakan korban pengeroyokan yang ditetapkan sebagai tersangka oleh Polsek Tlanakan, pada 17 Oktober 2019 lalu. Kini, Kadarusman alias Darus sedang ditahan.

Akibat putusan ngawur dan adanya kejanggalan dalam BAP, ratusan warga Desa Branta Pesisir, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, mendatangi Polres setempat, Selasa (12/11/2019).

Mereka menuntut keadilan dan melaporkan penyidik Polsek Tlanakan ke Propam Polres Pamekasan atas ditetapkannya Kadarusman sebagai tersangka.

Mereka melaporkan tidak sesuainya hasil visum dengan BAP. Dalam visum menerangkan bahwa Anang mengalami luka robek dibagian kepala sebelah kanan.

Sementara di BAP yang dikeluarkan penyidik Polsek Tlanakan yang terdapat pada pion 14 berbunyi bahwa Kadarusman menghampiri (Anang-red) dan langsung memukul serta menonjok sehingga Anang mengalami luka lebam dibagian mata sebelah kanan. Ia menduga ada rekayasa yang dilakukan penyidik Polsek Tlanakan.

Selain rekayasa tersebut, ada kejanggalan dalam hasil visum. Menurutnya, hasil visum pelaku (Anang) keluar tanggal 19 Oktober 2019. Sementara Polsek Tlanakan menetapkan Darus sebagai tersangka 17 Oktober 2019.

Sementara kejadian pengeroyokan yang dilakukan oleh Anang dan kawan-kawan kepada Darus tanggal 9 Oktober 2019. Kata Alfian, seharusnya penetapan tersangka pada Darus disesuaikan dengan hasil visum.

"Artinya antara BAP dengan Visum ini tidak sinkron. Seharusnya jika merujuk pada Pasal 351 bahwa satu-satunya alat bukti yang dijadikan dasar itu adalah visum. Ini kan sudah sangat melanggar aturan," kata Alfian.

Menurutnya, jika merujuk pada pasal 49 KUHP, Kadarusman tidak layak dijadikan tersangka. Sebab, Kadarusman adalah korban pengeroyokan.

"Bagi kami, penentuan tersangka yang dilakukan oleh penyidik Polsek Tlanakan itu telah menyalahi prosedur, khususnya Perkap Nomor 14 tahun 2012, Juncto Perkap nomor 6 tahun 2019 terkait dengan proses penyidikan dan penyelidikan," ungkapnya.

Maka dari itu, Alfian bersama ratusan warga Desa Branta Pesisir mendatangi Mako Polres Pamekasan untuk melaporkan seluruh penyidik Polsek Tlanakan yang diduga terlibat rekayasa BAP.

"Kenapa kami melaporkan hari ini? Karena kami menemukan kejanggalan-kejanggalan yang sifatnya tidak benar yang dilakukan oleh penyidik Polsek Tlanakan terkait kasus pengeroyokan ini," tutur Marsuto Alfianto kepada awak media di halaman Polres Pamekasan.

Dalam laporannya tersebut, Marsuto Alfianto meminta Polres Pamekasan untuk memecat semua penyidik yang ada di Polsek Tlanakan. Sebab, dinilai sudah merekayasa BAP.

"Selain kami meminta penyidik Polsek Tlanakan, polisi ini adalah sipil, jadi apapun yang dilakukan mengenai rekayasa terkait kasus ini, maka polisi itu harus memberikan tindakan keras, karena selain dipecat sebagai penyidik, mereka harus dipecat jadi Polisi RI," pungkasnya.

Sementara itu, Kapolsek Tlanakan AKP Sahrawi mengatakan bahwa dalam penetapan tersangka kepada Kadarusman sudah sesuai dengan aturan yang ada. "Intinya kita sudah sesuai prosedur," kata Sahrawi.

Mengenai laporan yang dilakukan Kuasa Hukum Kadarusman ke Propam Polres Pamekasan, Sahrawi mengaku siap menghadapi dan siap menerima segala macam konsekuensinya. "Iya," ungkapnya.


Kontributor : Faisol Jalaludin
Editor : Mu'ezul Khoir
Publisher : Alfina Putri
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar