default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

Nasib Kebun Kopi dan Rumah Sepeninggal Surono

Nasib Kebun Kopi dan Rumah Sepeninggal Surono
Peristiwa Nasional
Keluarga yang ditinggalkan almarhum Surono
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

JEMBER - Kebun kopi seluas 4 hektar di lereng sisi timur Gunung Raung milik Surono (50), warga Dusun Juroju Desa Sumbersalak Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember Jawa Timur, dalam setahun bisa mendulang uang sampai Rp100 juta.

Penghasilan besar itulah yang menjadi salah satu penyebab Surono dibunuh oleh istrinya, Busani (45) bersama anak laki-lakinya, Bahar (27) dengan menghantamkan linggis besi seberat 10 kilogram.

Selain menghabisi nyawa secara keji, Busani dan Bahar mengubur Surono ke dalam lantai beton musala rumahnya. 

Polres Jember telah menjadikan keduanya sebagai tersangka kasus pembunuhan berencana yang diancam hukuman seumur hidup.

Kepala Dusun Juroju, Edi mengatakan sedang diupayakan musyawarah mengenai rumah dan kebun kopi milik Surono agar tidak menimbulkan perselisihan diantara anggota keluarga.

"Surono masih memiliki anak perempuan bernama Fatim. Juga masih ada 3 orang laki-laki dan 1 perempuan saudaranya Surono," ungkapnya, Jum'at (8/11/2019).

Menurutnya, rumah Surono sementara ini tidak ada yang berani menempati. "Masih kosong, tapi tetap dijaga sesekali saya dan Pak RT yang lihat,-lihat" katanya.

Dia telah menasehati keluarga Surono agar kebun kopi itu dimanfaatkan sebaik mungkin.

Sebab, anak perempuan Surono yang bernama Fatim (20) baru saja melahirkan bayi laki-laki sekitar 20 hari lalu.

Kondisi keluarga Fatim juga pas-pasan. "Fatim sudah tidak kerja lagi. Dia terpaksa pulang dari Malaysia. Kan harus dipikirkan nasibnya," tutur Edi.

Selain itu, masih ada keluarga yang perlu diperhatikan, yakni Hosaemah istrinya Bahar dan seorang anak laki-laki yang berusia 2 tahun.

"Mau bagaimanapun, anaknya Bahar itu kan masih cucunya almarhum Pak Surono. Jangan sampai terlantar," ujarnya.

Kebun kopi yang ditinggalkan Surono, memang hasilnya sangat menjanjikan. Sebab, posisi lahannya berada di sebelah timur lereng tersinari matahari secara sempurna.

Riwayat lahan tersebut diperoleh Surono pasca era pembabatan hutan secara besar-besaran awal tahun 2000-an. 

Surono termasuk salah seorang diantara banyak warga yang berbondong-bondong memanfaatkan lahan kosong akibat pembabatan massal.

Di Jember, lahan kosong bekas hutan yang dibabat massal dikenal dengan sebutan 'tetelan'. 

Tetepan berarti cuilan adalah istilah yang dipakai kaum pandhalungan (budaya campuran Jawa dan Madura).

Lahan tetelan statusnya bukan hak milik, melainkan sebatas hak mengelola. Di Jember, tetelan banyak dijumpai pada area hutan lindung dibawah naungan Perum Perhutani maupun kawasan konservasi oleh Taman Nasional Meru Betiri.


Kontributor : Sutrisno
Editor : Sutrisno
Publisher : Alfina Putri
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar