default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

Tak Tersentuh Pemerintah, Mbah Ngateni Asal Lamongan Perlu Uluran Tangan

Tak Tersentuh Pemerintah, Mbah Ngateni Asal Lamongan Perlu Uluran Tangan
Peristiwa Daerah
Mbah Ngateni saat di rumahnya
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

LAMONGAN, - Dimasa tua, semua orang berharap tidak bekerja, hidup bahagia sembari bercanda dengan cucu. Namun harapan itu tidak terjadi pada nenek asal Kabupaten Lamongan.

Bagaimana tidak dengan kondisi fisik yang sudah mulai melemah, otot-otot mulai kaku, penglihatan mulai rabun, telinga mulai tuli dan pikiran mulai pikun. Nenek ini harus berjuang demi sesuap nasi dengan menjual tape ketan.

Ya, Mbah Ngateni (80) seorang lansia asal Desa Centini, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan. Sudah puluhan tahun tinggal sebatang kara, dengan kondisi fisik yang memprihatinkan, dirinya harus bertahan hidup dengan berjualan tape ketan buatannya. 

Mbah Ngateni sebenarnya mempunyai empat orang anak, tiga diantaranya telah meninggal dunia dan satu anaknya merantau ke luar Jawa dan sudah tidak pernah pulang ke rumah. Jangankan memberi kabar, mengirim uang pun tidak ada.

Dengan kondisi  yang rapuh, dirinya setiap hari harus membuat tape ketan untuk dijual dengan cara dititipkan kepada pedagang warung yang dirinya kenal. 

Dengan cara tersebut, menurut Ngateni paling mudah dilakukan, mengingat kondisi fisiknya yang sudah tua, bahkan dirinya mengaku tidak bisa menjual barang dagangannya sendiri lantaran kondisi kesehatan yang sudah tak kuat lagi berjalan terlalu jauh.

"Saya titipkan nak wes ora kuat mlaku (saya titipkan nak sudah tidak kuat berjalan)," keluh Mbah Ngatemi pada sejumlah wartawan. Selasa (29/10/2019).

Setiap hari Mbah Ngateni memperoleh uang sebesar 15 ribu, itupun kalau dagangannya habis. Walaupun demikian ia sudah sangat bersyukur, sudah mendapatkan penghasilan walaupun itu sangatlah minim.

Dari penghasilannya tersebut, Mbah Ngateni harus membaginya kepada pedagang yang sudah membantunya menjualkan tape buatannya sebesar 5 ribu. Hal itu terjadi setiap hari.

Sementara uang sisa yang masih ada sebesar 10 ribu, digunakan Ngateni untuk membeli beras, lauk pauk dan modal pembuatan tape ketan.

"Cuma dapat 15 ribu nak, wong (orang) pasarnya sudah beberapa bulan ini sepi," ceritanya dalam logat Jawa.

Keseharian bila tidur, Mbah Ngatemi tinggal di sebuah rumah kecil bila siang hari terkena matahari karena atap sudah pada rusak, bahkan tiang penyangga juga terlihat sudah doyong.

"Ya, kalau hujan bocor dan Mbah e tidak bisa memperbaiki karena sudah tua," keluhnya.

Dengan kondisi seperti itu, ternyata Mbah Ngateni sampai kini belum ada bantuan dari pemerintah. Seperti bantuan bagi masyarakat miskin dan lansia yang kerap digembar-gemborkan pemerintah tak pernah didapatkanya.

Hal ini dikarenakan dirinya tak punya identitas lengkap sebagai penduduk Lamongan. Karena dulu Mbah Ngateni adalah penduduk Tuban yang kemudian pulang ke Lamongan mengikuti suaminya. Ngateni tidak bisa pindah sebagai warga Lamongan karena tidak bisa mengurusnya, lantaran faktor usia yang sudah tua.

"Gak ngerti nak piye carane nguruse, terus ya gak duwe duwek (Tidak tahu nak bagimana cara ngurusnya, terus ya tidak punya uang, red)," ujarnya memelas.

Menanggapi kejadian seperti apa yang dialami Mbah Ngateni Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Lamongan, Moh. Kamil mengatakan tidak bisa berbuat banyak, hal itu mengingat jika Mbah Ngateni tidak terdata di dalam kependudukan Lamongan. 

"Kita tidak bisa memberikan bantuan secara cuma-cuma harus melalui proses, salah satunya identitas penduduk yang bersangkutan," ungkapnya.


Kontributor : Silviyana Anggraeni
Editor : Hariyanto
Publisher : Alfina Putri
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar